Olah Raga
2 April 2008
PSSI, mau dibawa kemana Daeng?
Posted by bradoks under Forum Diskusi, Olah Raga | Tag: Liga Super, Nurdin Halid, PSSI |Leave a Comment
3 Desember 2007
Beberapa hari yang lalu tepatnya ketika PSM Makassar dengan julukan “Juku Eja” mengalahkan Persija Jakarta dengan score 1 : 0, kalah agregat 1 : 2 untuk kemenangan Persija karena sebelum pada pertandingan away PSM Makassar kalah 0 : 2 sehingga PSM terlempar dari perebutan piala Copa. Kekalahan tersebut ditanggapi beragam oleh berbagai pihak tetapi yang paling terpojok adalah wasit sebagai pengadil di lapangan, khususnya dari pihak PSM wasit dianggap sangat-sangat tidak profesional. Pertandingan antara Arema malang dan Persitara Jakarta Utara dengan score 3 : 3 juga terjadi kerusuhan disebabkan tendangan finalty yang diberikan wasit. Wasit dianggap menunjukan keberpihakan kepada tuan rumah oleh tim official Persitara karena finalty terjadi pada saat injury time dan score 2 : 3 untuk persitara. Beberapa bulan yang lalu pertandingan antara Persin Sinjai vs PSM Makassar pada tournament Copa Indonesia seorang pemain Persin yang sudah di berikan kartu merah pada babak pertama masuk kembali pada babak kedua, dan wasit tidak melarangnya disebabkan Bupati Sinjai merangkap ketua Persin tidak menjamin keamanannya kalau terjadi kerusuhan. Kemudian, tadi malam pertandingan antara PSM Makassar dengan PSIM Yogyakarta dengan score 2 : 0 untuk PSM Makassar, walaupun tidak sempat terjadi keributan wasit tetap menjadi pihak yang dipersalahkan, bisa dilihat pada headline surat kabar fajar seorang kapten tim menunjuk muka hakim garis dan wasit tidak memberikan kartu kepada pemain tersebut. Apa kata dunia?
Heran, hampir setiap pertandingan Sepak bola yang selalu dipersalahkan adalah wasit, seolah-olah biang kerok dari persepakbolaan Nasional ada di hakim pertandingan. Barangkali mungkin semua komponen yang terlibat dalam sepakbola Nasional perlu bercermin serius alias introspeksi diri, bagaimana pemain sepakbola? kebanyakan tidak cukup profesional dalam mengendalikan emosi, artinya jangankan untuk meredam emosi para penonton bahkan apa yang kita lihat dalam pertandingan malah menjadi kompor-nya atau pemicu. Kalau bicara sportivitas dan profesionalisme mestinya apapun keputusan wasit di lapangan harus diikuti, protes tidak dilarang tetapi protes tidak harus dengan emosi yang berlebihan apalagi dengan mengancam atau memukul, itu tidak etis dan di haramkan dalam olah raga karena dalam setiap pertandingan ada panitia bahkan pengawas pertandingan, sehingga baik buruknya wasit pertandingan ada yang menilai dan penonton bisa menilai sendiri dan sebagai pemain profesional bermainlah sebaik-baiknya sesuai dengan aturan minimal kepada dirinya sendiri.
Pihak yang berwenang (komisi disiplin) harus mempunyai komitmen yang tegas dalam menegakkan disiplin agar tidak mudah dilecehkan oleh pihak yang kurang bertanggung jawab baik kepada wasit, pemain, official ataupun klub-nya demi menegakkan citra PSSI. Untuk menuju ke arah profesionalisme persepakbolaan kita maka PSSI memerlukan managerial yang memiliki komitmen, bersih dari track record yang hitam baik di organisasi maupun di luar organisasi dan memiliki kemampuan serta bebas dari pengaruh politik.
Jadi, menurut saya di tubuh PSSI memerlukan perubahan managemen, bagaimana menurut Saudara?
