Film ‘Fitna’ telah mendapat kecaman dari berbagai penjuru dunia, khususnya dunia islam. Alur film tersebut sangat melukai perasaan umat islam dan cenderung provokatif di tengah masyarakat dunia sedang melakukan berbagai kajian dan dialog ideologi antar agama untuk mewujudkan perdamaian umat manusia. Semua agama tidak ada yang mengajarkan permusuhan, peperangan, saling melukai atau apapun namanya yang dapat merugikan manusia satu sama lainnya. Permusuhan atau peperangan yang ada disebabkan karena adanya kepentingan manusia semata yang dibarengi hawa nafsu ‘syetan’ disatu fihak dan di fihak lain bagaimana mempertahankan eksistensi harga diri dan kehormatannya. (lagi…)
Cahaya Langit
1 April 2008
31 Januari 2008
Barangkali cerita ini, para pembaca sudah pernah baca atau dengar tetapi saya coba mengajak untuk merenungkan kembali. Dikutif dari The best chinese “life philosophies” karya Leman.
Tidak jauh dari pusat kota, terdapat taman bunga yang indah yang ditumbuhi rumput hijau dan bunga warna warni. Pagi itu udara ceraha, kumbang dan kupu-kupu (lagi…)
30 Januari 2008
Jemaat Ahmadiyah mengkompromikan imannya atau mencoba mengelabui keimanan muslim lain?
Posted by bradoks under Cahaya Langit | Tag: 12 pernyataan, ahmadiyah |1 Comment
Dalam 12 pernyataan yang dibuat pengurus jemaat ahmadiyah ada sesuatu yang aneh dilihat dari sisi keimanan, mereka mencoba untuk mengaburkan penglihatan muslim yang ada di Indoensia yang berada dalam organisasi massa seperti muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) ataupun yang lainnnya. Namun masyarakat sudah sangat jelas, ketauhidan mereka berbeda dengan ketauhidan organisasi massa islam yang ada dan mempunyai kecenderungan eksklusive dengan mengimani bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW yaitu Ghulam Mirza Ahmad yang terlahir di India. (lagi…)
30 November 2007
Setiap tahun tepatnya pada bulan Zulhijah (bulan idul qurban) umat manusia dari penjuru dunia khususnya orang yang beragama islam dan mampu, berduyun-duyun memasuki sebuah negara yang ada di Timur Tengah untuk melaksanakan rukun islam yang ke-lima yaitu ibadah haji, tidak terkecuali umat islam Indonesia. Semangat mereka sangat tinggi untuk menunaikan ibadah yang satu ini karena kewajiban untuk menunaikan ibadah haji hanya satu kali seumur hidup. Pada umumnya orang yang melaksanakan haji adalah orang baru dan tidak punya pengalaman sama sekali akan hal ini, sehingga sesuatu yang wajar apabila hampir setiap tahun mengalami permasalahan dalam mengelola/mengatur para jemaah ini. Jemaah haji tahun ini kurang lebih 210.000 jemaah sesuai dengan quota yang diberikan Arab Saudi kepada Indonesia, padahal peminatnya jauh diatas angka itu. Angka ini menunjukan bahwa walaupun kondisi perekonomian yang tidak cukup baik tetapi kesadaran akan kewajiban melaksanakan rukun islam yang ke-lima sangat tinggi, terlepas dari niat para jemaah untuk benar-benar tujuan ibadah atau hanya untuk mengugurkan kewajibannya saja, jelas disini jika tujuan ibadahnya berbeda maka menunjukan pemahaman essensi ibadah haji berbeda-beda bagi para jemaah, misalnya saja tentang kemabruran orang naik haji.
Pemahaman para jemaah haji awam ataupun saya (belum haji), balasan bagi jemaah haji yang mendapat predikat haji mabrur adalah surga yang selalu didengungkan di setiap forum-forum pengajian ataupun majlis taklim. Dulu yang pernah saya dengar jemaah haji yang mendapatkan predikat mabrur dari Allah SWT, apabila jemaah haji tersebut ada perubahan lebih baik dalam beribadah kepada Sang Pencipta Allah SWT setelah menunaikan ibadah haji tersebut tetapi sering tidak dijelaskan perubahan yang seperti apa terkait dengan lingkungan sosialnya sehingga mereka dapat predikat mabrur.
Berita di media lokal kota Makassar menyebutkan bahwa ternyata yang namanya joki tidak saja ada di kota-kota jakarta, seperti joki three in one, joki SPMB supaya lulus masuk perguruan tinggi tetapi joki-joki itu ada juga kota Mekah dalam rangka musim haji. Mereka menawarkan kemudahan-kemudahan bagi jemaah haji Indonesia yang berkeinginan mencium hajar aswad dengan biaya yang cukup mahal, sebesar 300 Riyal dan ternyata yang menawarkan itu adalah orang-orang Indonesia juga, saya berpikir “memang orang-orang Indonesia itu hebat-hebat, dimanapun berada dia selalu bisa untuk memanfaatkan peluang yang secara ekonomis sangat menguntungkan” kenapa saya bilang begitu karena sebenarnya mereka tidak sendiri tetapi punya tim yang memiliki tubuh-tubuh besar dan kekar yang siap mengawal kliennya yang akan mencium hajar aswad artinya orang yang menawarkan itu sebatas calo saja, seperti calo layaknya di terminal-terminal. Para jemaah merasa kalo mencium hajar aswad, ibadah haji akan lebih afdol karena memang mencium batu tersebut merupakan ibadah sunah. Mereka biasanya akan berusaha sekuat tenaga untuk mendekati batu tersebut, walaupun usaha untuk menuju kesana rela berdesak-desakan, sikut-sikutan dengan jemaah haji lainnya. Kalau dilihat demikian, mereka para jemaah kelihatan begitu egois seolah-olah ingin masuk surga sindiri tanpa menghiraukan orang disekitarnya, padahal Nabi Muhammad SAW, dalam sabdanya menganjurkan untuk menghormati tetangga jika ingin masuk surga.
Ibadah haji tahun yang lalu banyak para jemaah tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari penyelenggara (pemerintah) terkait dengan makan (akomodasi) yang sering terlambat sehingga media memberitakan banyak para jemaah haji kelaparan. Saya berpikir bahwa sesungguhnya para jemaah haji adalah orang-orang yang mampu dari sisi materil maupun spiritual karena pengertian mampu secara ekonomi adalah mampu memberikan nafkah bagi yang ditinggalkan dan mampu selama melaksanakan ibadah haji, walaupun telat pembagian makan tetapi saya yakin mereka bisa makan yang lain diluar yang disediakan oleh penyelenggara. Namun karena yang memberitakan media maka orang yang dengar atau membaca berita tersebut, terbayang kelaparan seperti pengungsi-pengungsi kena bencana alam atau para pengemis /gelandangan yang bisa makan pagi siang dan sorenya belum tentu. Apalagi berita tersebut disertai hasil wawancara dengan jemaah haji.
Dengan latar belakang budaya dan kepribadian orang-orang Indonesia adanya kejadian-kejadian yang di luar perkiraan selama menunaikan ibadah haji tidak menjadi suatu halangan yang berarti, dapat dilihat pendaftar jemaah haji dari tahun-ketahun selalu meningkat. Kejadian-kejadian tersebut bagi kebanyakan jemaah haji hanya dianggap sebagai suatu cobaan atau dampak dari tingkah lakunya selama ini. Banyak yang berpikir bahwa kalau selama ibadah haji dapat menjalankan dengan lancar tanpa ada halangan atau kejadian yang aneh-enah mereka beranggapan ibadah hajinya diterima, sedangkan kalau menemukan kejadian-kejadian yang tidak mengenakan mereka beranggapan merupakan balasan atau ganjaran atas kelakuan selama ini, mereka tidak banyak yang berpikir essensi dari pelaksanaan ibadah haji itu sendiri dan bagaimana dampak setelah melaksanakan ibadah tersebut.
Ironis sekali, jika setelah melaksanakan ibadah haji mereka masih tetap melaksanakan korupsi, kolusi atau nepotisme, kata teman saya itu mungkin saja terjadi kalau biaya yang digunakan untuk melaksanakan haji tersebut dari hasil KKN juga atau biaya hajinya bukan hasil KKN karena selama ini gaji tiap bulan di tabung tetapi biaya hidup kesehariaannya dari KKN. Ada juga setelah pulang melaksanakan ibadah haji menjadi miskin, karena untuk biaya naik haji ia menjual kekayaannya untuk mendapat predikat haji atau mereka setelah naik haji tetap tidak mengenal tetangganya yang miskin. Oleh karena itu, kepada para jemaah haji saya mengajak untuk berpikir bersama eksistensi kemabruran kita dalam menjalan ibadah haji ini.
29 November 2007
Apakah anda orang cerdas
Posted by bradoks under Cahaya Langit | Tag: Cahaya Langit |Leave a Comment
Bagian tulisan yang perlu kira renungkan bersama, berada dimanakah kita? diambil dari novel “laskar pelangi” oleh Andrea hirata.
Orang yang cerdas pintar, laksana orang berdiri dikegelapan yang memandang disekitarnya yang terang benderang yang tidak dapat dipahami oleh lingkungannya dan sebagian mereka terperangkap dalam kegelapan itu. Jika ditambah dengan sifat yang introver, maka orang-orang cerdas semacam itu tak jarang berakhir di sebuah kamar dengan perabot yang berwarna teduh dan musik klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari mereka sangatlah menderita.Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa, kosong. Jika ada suara memasuki telinga, maka suara itu terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembali melelui mulut mereka. Mereka selalu bicara keras-keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.
Jadi Saudara?
