Tiga setengah tahun yang lalu …….
Langkah-langkah gontai dengan raut muka tanpa harap menuju bumi Makassar…
Mata menerawang jauh luasnya angkasa raya tak bertepi
Seolah-olah tidak akan kembali
Hati ini berdesir saat pertama kali pesawat take off
Jantung ini berdetak semakin kencang ketika pesawat mengalami sedikit guncangan
Pikiran kacau selama penerbangan dan hanya bisa berdo’a
Selamatkanlah Ya Allah …sampai di Makassar
Tiga setengah tahun yang lalu …
Semilir angin mamiri kota Makassar menyapa wajah kusut
Gelombang ombak pantai losari tiada henti menerjang karang
Seolah-olah tidak pernah putus asa
Tetap semangat menerjang semua halangan dan rintangan
Seakan-akan mengatakan bahwa harapan itu masih ada
Seiring jalannya waktu ….
Ditemani belaian angin mamiri
dan tekad kuat gelombang ombak pantai losari
senyuman dan keceriaan mulai nampak di wajah-wajah kita
membuat tujuan dan harapan untuk kembali tetap terjaga.
Tiga tahun setengah bukanlah waktu yang singkat
Untuk meninggalkan keluarga dan orang-orang terdekat yang dicintai
Ini adalah perjuangan yang memerlukan pengorbanan segalanya
Lelah …. dan lelah….
Namun, tiga tahu setengah bukanlah waktu yang lama
Untuk meninggal kebersamaan diantara kita dalam suatu pengabdian
Mudah-mudahan kebersamaan selama ini membuat persaudaraan
dan silaturahmi kita tetap terjaga selamanya.
Kini kebersamaan kita di Makassar tinggal kenangan
Canda tawa pelipur sepi dan
beda pendapat dan kritik bumbu kebersamaan akan
selalu terngiang disaat ingat kota Makassar
Teman … kenanglah yang baik-baik saja
Cukuplah kejelekan itu hanya dijadikan cermin untuk melangkah.
Maafkan saya …
atas semua kesalahan dan kekeliruan yang telah diperbuat.
Kawan ……….!!
Nikmatilah kota Makassar bagaikan
angin mamiri menyapa dan membelai siang dan malam hari
Tetaplah semangat bagaikan
ombak pantai losari yang tidak pernah berhenti menerjang batu karang
karena harapan itu tetap ada
Selamat tinggal kawan dan ….
Selamat tinggal Kota Makassar.
Makassar, 11 Juli 2010
