
Suka Berbohong
Di malam pertama outbond, semua peserta dikumpulkan dalam suatu tenda besar untuk acara perkenalan. Masing-masing peserta dipersilahkan memperkenalkan diri mulai dari nama, alamat isntansi dan semboyan hidup yang diasosiasikan pada sebuah benda yang ada di alam sekaligus menjelaskan sifat dari benda tersebut. Semboyan hidup yang dilontarkan oleh para peserta, mempunyai kecenderungan pada nama benda yang sama, terlepas apakah para peserta tersebut memang mempunyai pemikiran yang sama atau males mikir, diantaranya batu karang, bunga, madu, matahari, lilin ataupun air. Jika dikelompokan ternyata sebagai besar peserta semboyan hidupnya diasosiasikan kepada air, jadi tidak salah kalau banyak orang memiliki semboyan hidup “Hiduplah seperti air mengalir”.
Air yang mengalir akan menerjang semua halangan atau rintangan yang ada. Dia akan berusaha mencari jalan atau lubang untuk menuju ke tempat-tempat yang lebih rendah dengan berbelok-belok, berliuk-liuk diantara hadangan yang ada, seolah-olah tanpa beban dan tenaga untuk mencapai tujuannya. Air bergerak berdasarkan hukum alam, sehingga semua benda yang ada di atasnya jika ingin tetap bertahan agar tidak hanyut terbawa arus, maka dibutuhkan penahan dengan tenaga sebesar air mengalir tersebut. Pertanyaannya sampai kapan penahan tersebut dapat bertahan dari serbuan air tersebut?
Umumnya manusia tidak menyadari bahwa jujur merupakan hukum alam sebagaimana halnya air yang mengalir dari atas gunung menuju lautan, jadi bukan hanya semboyan hidup semata. Kita bisa melihat kejujuran ada pada anak-anak balita. Mereka polos, lugu dan apa adanya sebelum orang tua dan lingkungannya memperkenalkan ketidak-jujuran dan kepalsuan hidup. Pernahkah bertanya sesuatu kepada anak balita Anda, kemudian bagaimana reaksinya jika menjawab tetapi tidak jujur?
Seseorang yang jujur dalam berbicara dan bertingkahlaku, dia tidak akan merasa ada beban dan semua gerakan anggota tubuh terlihat normal seperti air mengalir karena secara fisiologi mendukung. Namun ketika kita berkata atau bertingkahlaku tidak jujur maka secara fisiologi akan nampak perubahan di beberapa bagian tubuh kita yang mengekspresikan ketidakjujuran tersebut. Berdasarkan beberapa penelitian, ketika kita berbohong maka ada perubahan fisiologi dalam diri kita, misalnya tekanan darah, denyut jantung, timbulnya keringat atau perubahan suara atau gerakan-gerakan bawah sadar tertentu yang mengekspresikan ketidakjujuran. Hasil penelitian tersebut, munculah teknologi yang disebut lie detector yang sering digunakan instansi kepolisian.
“Nak, suaramu terdengar bergetar ketika kamu mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya”, dalam petikan sebuah film.
Seorang anak balita, biasanya secara reflek akan menutup mulutnya ketika selesai berbicara bohong. Juga beberapa orang dewasa ketika dia berbohong dia akan menggaruk-garuk kepala bagian belakang padahal dia tidak gatal.
Apabila seseorang memaksakan ketidakjujuran atau kebohongan dalam bertingkahlaku diperlukan energi yang besar untuk meredam agar keadaan yang sesungguhnya tidak terkuak, sebagaimana halnya kita menahan air supaya tidak mengalir diperlukan kekuatan yang cukup. Untuk meredam ketidakjujuran atau kebohongan tersebut, mau tidak mau diperlukan kebohongan dan ketidakjujuran berikutnya dan akan berulang terus seperti itu. Bahkan ada pepatah mengatakan bahwa “untuk menutupi satu kebohongan diperlukan seribu kebohongan yang lain”. Dan berapa banyak energi kita yang diperlukan untuk menopang kebohongan-kebohongan tersebut. Ingatlah, seperti halnya tanggul suatu bendungan memiliki masa ekonomisnya.
Dengan fitrahnya manusia sebagai makhluk yang jujur, maka sesungguhnya manusia tidak cukup pandai untuk konsisten selalu terus menerus berbohong. Bukankah jika ketidakjujuran terkuak, maka terancam tidak akan dipercaya lagi? Bahkan dijauhi.
Dan bukankah jujur itu mudah dan memudahkan dalam kehidupan ????