Neolibkah?

Neolibkah?

Pemilu Capres dan Cawapres tanggal 08 Juli 2009 baru saja kita lewati, berdasarkan quick count yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey prediksi kemenangan berada pada pihak SBY-Boediono . Sisi negatif yang digembar-gemborkan oleh lawan politik SBY-Boediono sebelum hari pemilihan terhadap sosok Boediono yang di cap Neoliberalisme ternyata tidak berpengaruh terhadap elektabilitas pasangan ini. Ketokohan/figur seorang SBY melebihi dari partai-partai pendukung yang ada, kita dapat melihat pada masa kampanye legislative yang lalu, beberapa simpatisan partai-partai sering membawa poster dengan slogan “partainya ……… tetapi presidennya tetap SBY”. Ini artinya, bahwa siapapun orangnya yang dipilih oleh SBY sebagai wakilnya maka SBY akan tetap menang dalam pemilihan presiden kali ini.

Para ekonom dan politikus yang bersebrangan dengan SBY-Boediono, tidak terkecuali  Amien Rais, Gusdur ataupun Kwik Kian Gie menganggap bahwa Boediono sebagai seorang neolib. Bahkan Kwik Kian Gie pernah melontarkan “Bohong kalau Boediono bukan neolib ……  Saya menantang Boediono dan mafia Berkeley untuk berdebat soal ini (neoliberalisme) karena saya yakin sekali bahwa Boediono berada pada posisi yang membenci adanya peran Negara atas pasa” (Koran Tempo, 23 Mei 2009). Dalam buku Ismantoro Dwi Yuwono dengan judul “Boediono dan (Neolib)eralisme”, tiga pilar penting neoliberalisme yaitu pertama kebijakan fiskal yang disiplin dan konservatif, kedua privatisasi BUMN dan ketiga liberalisme pasar atau market fundamentalism. (lagi…)