
Siswa Tidak Lulus UN
Kelihatannya berlebihan membaca judul tulisan ini. Namun jika dicermati berita di media masa hari ini kita cukup terperanjat membaca sebanyak 33 SMA diberitakan tidak lulus 100%, termasuk beberapa sekolah yang dikatakan favorit di wilayahnya juga mengalami nasib yang serupa. Apa yang salah dalam dunia pendidikan kita? Sistem, guru/pengajar atau siswanya. Ujian Negara untuk SMA yang baru lewat sudah dapat dilihat gambarannya walaupun belum diumumkan secara resmi tetapi pemberitaan yang ada sudah dapat kita urut kronologisnya ke belakang.
Standar nilai kelulusan setiap tahun mengalami peningkatan seringkali ditanggapi kekhawatiran yang berlebihan oleh Siswa/murid maupun guru. Untuk meraih tingkat kelulusan yang tinggi dituntut tanggung jawab tinggi dari semua pihak yang ada di sekolah tersebut, yaitu siswa, guru dan lingkungan. Namun sayang kondisi ini kadang-kadang hanya dilihat sebelah mata, buktinya masih banyak siswa ataupun guru tidak mempersiapkan secara baik dalam menghadapi Ujian Nasional.
Istilah SKS (sistem kebut semalam) masih juga diperagakan dalam pendidikan kita, akibatnya apa yang terjadi? Ketika hari H-nya tiba untuk ujian, siswa maupun guru kurang memiliki kepercayaa diri. Saat kepercayaan diri itu kurang maka, mereka akan mencari solusi singkat yang dianggap akan memberikan keberhasilan yang maksimal, padahal kadang hanya sebuah fatamorgana belaka.
Barangkali, kalau yang kurang memiliki kepercayaan diri adalah siswa/murid merupakan hal yang sangat logis, disitu peran guru memberikan motivasi dan semangat, tetapi kalau guru yang tidak percaya diri siswanya dapat menyelesaikan ujian nasional, maka paraktis tidak ada lagi yang diharapkan dari dunia pendidikan kita.
Gambaran ini sudah dapat kita saksikan di depan mata, beberapa oknum guru terlibat dalam skenario membuat kunci jawaban atas soal-soal ujian nasional. Seperti halnya hari Ini, kita saksikan beberapa sekolah yang siswanya tidak lulus 100%, setelah diselidiki ternyata jawaban soal ujiannya sama (salahnya sama). Atas kondisi ini, ada wacana dari Badan Standarisasi Pendidikan Nasional (BSPN) untuk diadakan ujian ulangan. Kalau ujian nasional ulangan ini terjadi maka jelas ini tidak adil dan tidak menghargai dunia pendidikan itu sendiri.
Ujian ulangan mungkin baik bagi kelompok tertentu, yaitu memberikan kesempatan bagi siswa-siswa yang tidak lulus. Namun, dampak dari ujian ulangan tersebut akan memberikan dampak yang tidak baik bagi system pendidikan nasional kita. Masyarakat akan berpendapat “apa manfaatnya standarisasi dan perubahan sistem kalau sewaktu-waktu kebijakan tersebut dapat dirubah-rubah sesuai dengan kepentingan tertentu?”
Kejadian 33 SMA yang tidak lulus 100%, biarkan menjadi pelajaran / introspkesi diri ke depan bagi sekolah-sekolah tersebut dan sekolah lainnya. Biasakan siswa dan guru punya tanggung jawab dan kepercayaan diri serta berani mengambil resiko. Mungkin pahit tetapi kedepan akan menjadi lebih baik.
Minum obat itu pahit/tidak enak tetapi menyembuhkan.