Laba-laba Penunggu TPS

Laba-laba Penunggu TPS

Pemilu yang lalu tanggal 9 April 2009, saya mencontreng di Kota Mendoan Purwokerto tepatnya di kelurahan Teluk. Saya bersama istri sengaja berangkat ke TPS agak siang karena kalau pagi-pagi harus ngantri, disamping itu saya sendiri baru sampai di Purwokerto Pukul 02.00 WIB dini hari. Tepat pukul 11.00 WIB kami sampai di TPS, ternyata masih ada yang ngantri walaupun tidak terlalu banyak. Lihat-lihat sebentar kemudian my wife daftar dan menunggu giliran untuk dipanggil oleh petugas PPS. Karena tidak kebagian kursi di ruang tungggu, akhirnya kami duduk di tempat pelorotan anak-anak di luar gedung di bawah pohon mangga. Oh .. iya TPS-nya di salah satu kelas gedung TK yang ada di perumahan kami.

Awalnya kami nyaman-nyaman saja duduk disitu sambil ngobrol ngalor ngidul sambil bercanda. Namun tiba-tiba tangan kanan saya dekat persedian sikut terasa panas menusuk, saya melompat sambil menggosok-gosokan telapak tangan kiri ke tempat yang terasa panas tadi. My wife kaget, sambil bertanya ” … ada apa Yah?” sahutnya. Ternyata di samping bekas tempat duduk saya ada seekor laba-laba hitam dan berbulu. Rupa-rupanya saya telah digigit laba-laba dan laba-laba tersebut oleh my wife dipukul pakai tongkat bamboo panjangnya sekitar 1 meter.

Setelah melihat yang menggigit tersebut laba-laba hitam dan berbulu, saya jadi teringat cerita orang-orang atau film-film laba-laba beracun yang dapat mematikan manusia dalam waktu kurang dari 1 jam dengan satu sengatan saja. Beberapa saat setelah gigitan tersebut badan saya agak melayang dan keluar keringat dingin.

“Mah, … aku kok nggak enak badan, kayaknya pandanganku nggak fokus, mukaku pucat nggak? ” kataku, “ah,…. Yang bener itu  tapi memang mukanya agak pucat”, jawab my wife.

Saya mulai agak panik, “jangan-jangan bener laba-laba tadi, laba-laba beracun”, pikirku. Pikiranku mulai menerawang dan membayangkan dalam film-film, bagaimana laba-laba beracun menyengat manusia hingga mati. Dengan tergesa-gesa sambil digandeng my wife kami bergegas pulang. Setelah berdiskusi sebentar dengan my wife, kami mengambil kesimpulan untuk segera ke rumah sakit untuk diperiksa.

Kemudian kami juga mengajak bedi junior ke rumah sakit, kasihan daripada ditinggal sendirian di rumah. Sebelum sampai di rumah sakit, kami mampir dulu ke TPS dan meminta kepada petugas PPS agar kami didahulukan menconteng dengan alasan kami harus segera ke rumah sakit. Tanpa sepengatahuanku, my wife berinisiatif mencari laba-laba yang dipukul di tempat kami duduk-duduk tadi. Setelah ditemukan kemudian memasukannya ke dalam botol untuk diperlihatkan kepada dokter jika dokternya tanya. “pinter juga …” pikirku. Di perjalanan kami tidak banyak ngomong, sesekali sambil memegang kendali mobil my wife melirik dan bertanya “bagaimana sekarang?   Mukanya sudah nggak begitu pucat, kok”

“sudahlah, periksa dulu saja biar nggak penasaran”, jawabku.

Tiba di rumah sakit pukul 12.21 WIB, kebetulan setelah daftar kami hanya menunggu 2 pasien yang belum dapat panggilan. Saat giliranku dipanggil, kami masuk ke ruangan periksa dan oleh asisten dokternya aku dipersilah untuk tiduran di atas tempat periksa. “Bagaimana pak, apa yang dirasakan?”  tanya dokter, baru juga saya mau jawab, eh ….. my wife sudah bla … bla … bla … cerita kejadian dari a s.d. z.

“O, ya ya ya, coba saya periksa dulu “,gumam dokter

Setelah diperiksa dan ditanya ini-itu, “gimana dok?” tanyaku,

“nggak apa-apa” jawabnya, kami Tanya sampai 3 kali jawabnya sama. “nggak apa-apa gimana, wong badanku nggak enak gini, kok” pikirku.

Akhirnya kami dipersilahkan untuk menunggu obat dan sekaligus pembayarannya.

Beberapa saat setelah pembayaran selesai, bedi junior berkata “Yah..!, makan siang, yuk”. Ketika itu aku kaget “makan”. Pikiranku mulai berproses, menerawang kejadian-kejadian dari mulai pagi hari sampai dengan saat ini. “Waduh,…. Jangan-jangan karena aku belum……!”,pikirku.

Akhirnya aku mengiyakan ajakan juniorku itu.

Setiba di rumah makan, kami memesan makanan sesuai dengan keinginannya masing-masing. Kami makan lumayan lahap, diam-diam my wife memperhatikan aku dan menyuruhku untuk menghabiskan makannya. Setelah makananya aku habiskan, my wife ketawa-ketawa. “Yah,…Yah,… itu sih lemes, keringat dingin dan muka pucat bukan karena gigitan laba-laba tapi telat makan alias kesuren”, kata my wife.

“kayaknya iya, “, jawabku, dan akhirnya kami berdua ketawa sementara juniorku bingung nggak mengerti apa yang sedang kami tertawakan.

Jadi, kepada pembaca jangan sampai telat makan apalagi lupa makan.