Pekerjaanlah yang menuntut harus berpisah dengan keluarga, memang ini pilihan sulit yang harus diambil tetapi setelah dibicarakan dengan keluarga sampai dengan saat ini Alhamdulillah bisa kami jalani.  Bertemu dengan keluarga paling tidak sebulan sekali atau kadang kami paksakan 2 mingguan itupun kalau ada doku-nya. Biasanya kalau mau pulang, jauh-jauh hari sudah pesan tiket pesawat agar dapat harga yang lebih murah, tidak seperti naik kereta api atau bis setiap saat bisa didapat dengan harga standar tapi tiket pesawat jika beli mendadak bisa-bisa harga menjadi 2 kali lipat. Terkadang baru tiba di Makassar kita sudah harus pesan tiket untuk kepulangan bulan berikutnya. Meskipun demikian, kami bersyukur masih bisa pulang sebulan sekali dengan take home pay sekarang.

Begitu juga kepulangan tanggal 14 Agustus 2008, sudah direncanakan satu bulan sebelumnya. Barangkali bisa dibayangkan, sebulan sebelumnya sudah beli tiket dan sudah terbayang tanggal 14 Agustus 2008 pukul 19.00 Wita naik pesawat dan perkiraan sampai rumah ketemu keluarga pukul 24.00 WIB. Setelah mengantri 5 meter untuk chek in, ternyata seorang petugas penerbangan “Merpati” mengatakan kepada calon penumpang yang mengantri bahwa “bapak dan ibu sit sudah penuh”.

Sontak semua calon penumpang marah-marah kepada petugas merpati yang ada disitu, termasuk saya. Sumpah serapah dari mulut calon penumpang keluar semua untuk mengungkapkan kekecewaannya. Dengan tegas saya sampaikan, “saya tidak mau tahu malam ini saya harus sampe ke Yogya, terserah mau pake penerbangan apa”. Akhirnya saya disuruh menunggu untuk dicarikan penerbangan lain, selama menunggu saya menjadi nggak enak dengan rekan seperjalanan karena dia tidak dapat dicarikan penerbangan lain karena tiket yang dipakai adalah tiket free dan selama itu pula dia bergumam/grundel terus.

Dan petugas merpati menghampiri saya dan menyampaikan bahwa semua penerbangan sudah penuh dan jika mau bisa berangkat pagi harinya naik pesawat garuda lewat Jakarta. Setelah berpikir beberapa saat, menimbang dan mengingat perjalanan yang ditempuh dan rekan seperjalanan, saya memutuskan untuk berangkat besok sore-nya bareng dengan rekan seperjalanan tersebut. Oya ,…… untuk ongkos taksi kami diberi uang Rp. 150.000,- oleh petugas merpati tersebut.

Selama perjalanan pulang kembali ke rumah dinas pikiran menerawang kemana-mana, kecewa, marah campur aduk nggak keruan …………………. banyak bintang di atas kepalaku.

Singkat cerita, keesokan harinya pesawat dengan penerbangan yang sama berangkat pukul 19.00 Wita tanggal 15 Agustus 2008 (hari jum’at) dan sampai di rumah pukul 00.30 WIB (sabtu dini hari). Padahal hari senin tanggal 18 Agustus 2008 harus sudah masuk kerja lagi di Makassar. Praktis punya waktu ketemu keluarga hanya 2 hari satu malam termasuk waktu istirahat …………… bisa dibayangkan cape-nya karena dari Yogya masih 4 jam sampai ke rumah, sedangkan ketika kembali ke Makassar naik pesawat dari bandara Juanda Surabaya sekitar 10 jam naik bis.

Meskipun begitu, saya mencoba merenung dari semua yang telah terjadi dan mencoba mengambil hikmahnya dari semua itu. Pepatah mengatakan bahawa hidup adalah pilihan, hidup adalah perjuangan, hidup adalah pengorbanan dan hidup adalah perbuatan. Maka berbahagialah, rekan-rekan seperjuangan yang tempat kerjanya masih di pulau jawa meskipun berpisah dengan keluarga.