Ketika itu, saya tugas di kota jember pada sebuah instansi pemerintah dan baru beberapa bulan dipromosikan sebagai kepala seksi. Kebetulan kepala kantornya masih dari satu daerah yaitu dari Jawa Barat, jadi beliau cukup memahami kalau saya mohon izin untuk pulang nengok keluarga minimal 2 minggu sekali. Beliau saat itu sedang sakit stroke, mungkin karena kecapean ditambah dengan umur sudah mendekati pensiun dan banyak yang harus dipikirkan berkaitan dengan pekerjaannya. Berobat telah dilakukan hampir ke semua tempat yang ada di wilayah timur Jawa Timur bahkan pengobatan alternative telah dicoba tetapi nampaknya belum ada yang berhasil. Akhirnya dalam benak keluarga beliau berpikir “jangan-jangan ada orang yang sedang ngerjain”, maklum daerah tapal kuda sangat terkenal dengan kleniknya. Walaupun beliau sakit, tetapi tetap masuk kerja walaupun di dampingi istrinya karena banyak yang harus ditandatangani dan keinginan kuat beliau untuk masuk kerja.
Pada suatu hari tepatnya hari jum’at, saya pamit pulang sore hari untuk nengok keluarga karena memang hari itu sudah 2 minggu tidak pulang dan ternyata beliau juga mau berangkat ke Situbondo siang hari itu juga untuk berobat ke pengobatan alternative bersama ibu dan sopir baru-nya beliau. Pukul 17.00 WIB saya sudah meluncur ke arah Surabaya dengan naik kendaraan umum (Bus Cepat Akas) dengan membayangkan bertemu keluarga terutama anak tunggal saya yang baru umur 5 tahun. Ketika melewati kota probolinggo sekitar pukul 19.15 telepon genggam saya bordering dan ternyata nomor hp yang muncul dari Kepala Kantor, saat itu juga saya kaget jangan-jangan disuruh kembali ke jember karena ada urusan. Namun suara yang muncul adalah suara perempun dan ternyata adalah ibu kepala kantor dengan suara yang terburu-buru dan diselingi dengan ketawa-ketawa yang dipaksakan. Singkat cerita ternyata beliau telepon di Pompa Bensin perbatasan Situbondo-Bondowoso karena ditinggal suami dan sopir barunya dan dia minta tolong saya untuk telpon ke kantor (satpam kantor atau karyawan yang sedang lembur) untuk mengecek ke rumah dinas apakah mobilnya sudah sampai atau belum.
Kemudian saya telpon staf yang masih lembur untuk mengecek ke rumah dinas. Selama perjalanan menuju ke Purwokerto saya sering tersenyum sendiri kalau ingat apa yang telah menimpa ibu kepala kantor tertinggal di SPBU.
Karena belum tahu masalahnya, pada hari senin sekembalinya dari purwokerto saya memanggil dan menanyakan langsung kepada sopirnya karena kebetulan sering ikut membantu pekerjaan di seksi saya apa yang sebenarnya terjadi. Sopir itu menceritakan dari mulai kebrangkatan sampai dengan kembali. Ternyata selama dalam perjalanan tidak ada komunikasi dengan kata lain lebih banyak diamnya. Si sopir karena merasa masih baru nggak berani ngomong kecuali kalau di tanya atau ditawarin minum/makan dan kepala kantor dan istri juga tidak banyak bicara karena mungkin merasa kelelahan mengingat perjalanan jember bondowoso 2 jam lebih, jadi keduanya lebih banyak tidur.
Pada saat kejadian di SPBU, (menurut sopir) kepala kantor tidur di kursi depan dan ibu tiduran di jok tengah. Ketika Ibu keluar untuk ke kamar mandi tidak memberitahu dan sopir masih menganggap masih tiduran di jok tengah. Setelah diisi bensin tanpa mengecek lagi karena serba pakewuh (bhs. Jawa) takut dianggap nggak sopan, berangkatlah menuju Jember. Selama di perjalanan selama 2 jam menuju jember sopir tidak pernah menengok ke belakang dan juga demikian dengan kepala kantor kadang-kadang terjaga tetapi tidak menanyakan atau tidak sekalipun menengok ke belakang untuk sekedar melihat istrinya.
Setelah sampai di rumah dinas sudah ditunggu staf saya dan menanyakan ibu kepala kantor berdasarkan informasi dari saya, sontak dia kaget kemudian dia cek jok tengah benar saja belaiu tidak ada. Akhirnya dengan rasa takut dia kembali lagi ke SPBU dimana ia mengisi bensin untuk menjemput ibu kepala kantor. Jika dihitung ibu kepala kantor menunggu sekitar 3,5 jam untuk dijemput kembali ………….
Dari penggalan cerita di atas, sebagai seorang kepala kantor dan istri apa yang dapat Saudara bayangkan terhadap kejadian di atas, marahkah beliau dan istri terhadap kejadian tersebut? Ternyata tidak, kecewa mungkin ia tetapi ekspresi yang ditampilkan biasa saja karena mungkin sang kepala kantor dan istri menyadari bahwa kesalahan tidak hanya terletak di sopir saja, walapun dia sedang sakit.
Beliau tidak memarahi sang sopir ataupun mengomentari penyebab dari kejadian tersebut tetapi bagaimana dapat menjemput istrinya dengan cepat dan selamat, karena kalau mengedepankan emosinya maka khawatir sopir menjalankan mobilnya tanpa perhitungan saat menjemput istrinya sehingga resiko yang ditimbulkan akan jauh lebih besar. Sopir dengan rasa bersalah yang sangat dalam minta maaf kepada kepala kantor dan istri atas kejadian tersebut, sampai dengan saya di alihtugaskan ke Makassar dia tetap menjadi sopir pribadinya walaupun menurut kabar kesalahan-kesalahan kecil masih terjadi.