Beberapa bulan terakhir dunia di hebohkan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia naik cukup signifikan hingga 98 dollar Amerika per barrel, pada tanggal 30 Nopember 2007 turun menyentuh harga 90 dollar Amerika per barrel, padahal harga minyak mentah dunian APBN kita hanya mematok sekita 60 dollar per barrel. Sebagai penghasil minyak, dengan kenaikan ini memang Pertamina memperoleh pendapatan yang cukup besar akan tetapi dengan perhitungan yang sama dana yang dikeluarkan atas kebutuhan BBM di dalam negeri ternyata jauh lebih banyak. Kebijakan harga BBM yang dikeluarkan pemerintah dengan patokan harga minyak dunia jelas akan menimbulkan reaksi dari masyarakat. Kebiajakan-kebijakan terkait dengan fluktuasi harga minyak respon yang diambil pemerintah cenderung sama berkutat pada bagaimana kenaikan harga minyak dalam negeri dapat diterima oleh masyarakat, jika kebijakan ini yang ditempuh maka responnya akan sama juga. Memang kebijakan menaikan harga BBM di dalam negeri merupakan kebijakan yang paling gampang untuk menutupi gap harga, karena untuk kalkulasi seperti itu tidak harus menjadi profesor ataupun Doktor, pedagang pinggir jalan pun tahu. Menurut pemikiran saya, pemerintah harus lebih kreatif untuk membuat terobosan kebijakan yang berbeda dengan melihat kondisi yang berkembang di masyarakat, karena kebijakan menaikan harga BBm menurut saya hanya kebijakan jangka pendek. Pemerintah perlu memikirkan, apakah kita sudah melakukan efesiensi dalam menggunakan BBM?
Alternatif kebijakan pemerintah dalam merespon kenaikan harga minyak mentah dunia, sebagai berikut:
1. Harga BBM dalam negeri naik mengikuti perkembangan harga minyak dunia.
2. Subsidi silang antara berbagai jenis bahan bakar.
3. Subsidi transportasi umum, BBM Rumah tangga dan subsidi dikurangi untuk kendaraan pribadi.
4. Pembatasan kepemilikan jumlah kendaraan
5. Sosialisasi hemat BBM/energi yang lebih intensif

Wacana yang berkembang bahwa pemerintah mengambil kebijakan untuk tetap mensubsidi transportasi massal atau angkutan umum seperti alernatif 3 di atas, memang cukup masuk akal jika dilihat sisi kalkukalasi hitungan serta dampak yang akan timbul di masyarakat. Namun dari kebijakan seperti ini, permasalahan yang mungkin timbuil adalah bagaimana melakukan pemantauan bahwa BBM bersubsidi ini sasarannya tepat.