Terima kasih … Tuhan
Itulah yang sering terucap manakala aku sedang sendiri dan merenung, mengingat perjalanan hidup yang telah dilewati, banyak halangan dan tantangan yang harus kulewati yang tidak pernah dapat dibayangkan sebelumnya. Seorang bocah kecil telah lahir dihari malam hari yang sepi pada hari kamis di sebuah desa di kaki bukit beberapa kilometer dari Gunung Ciremai dengan jenis kelamin laki-laki. Seiring dengan tangisan kelahirannya disambut pula dengan kegembiraan oleh sanak keluarga yang menunggu sejak sore. Pada hari ketujuh anak tersebut diberi nama sebagaimana lajimnya anak manusia yang dibarengi dengan sukuran atau selamatan. Memang nama yang diberikan tidaklah nama yang keren atau modern sebagaimana jaman sekarang, ya barangkali karena orang desa kadang-kadang namanya juga pasaran artinya nama itu ada yang sama dengan nama-nama anak tetangga kampung atau tetangga desa. Mungkin juga karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pergaulan orang tuanya.
Walaupun demikian semua orang tua berharap anaknya kelak menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan berguna bagi nusa bangsa dan agamanya. Hal yang sudah lazim pada saat itu, apalagi berada di perkampungan bahwa konsep banyak anak banyak rejeki masih dianut. Jadi tidak heran anak yang baru lahir tersebut adalah anak keempat, mestinya anak itu menjadi anak keenam tetapi dua anak yang terlahir sebelumnya telah meninggal disaat masih bayi. Dengan kelahiran bocah laki-laki ini menjadi sangat diperhatikan oleh kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya karena mengingat masa lalu dengan kematian dua orang anaknya itu yang semestinya dapat diselamatkan dari kematian kalau dapat diketahui lebih dini penyakitnya walaupun disadari yang namanya kematian adalah sebuah takdir. (bersambung)